Jumat, 12 November 2010

WRITE SUCK!

KENAPA HARUS MENULIS? selalu kata-kata tersebut yang ada di pikiran gue ketika ada tugas ataupun catatan-catatan dari dosen.

Jujur gue gak suka menulis karena menulis itu diam walaupun hati ikut bicara tapi tetap saja diam. (itu menurut gue)
Kesan lain yang ada di pikiran gue, menulis itu sangat membosankan, menulis itu "sok", menulis itu hanya membuang waktu, dan tidak ekspresif! gue lebih suka berjalan-jalan walaupun tanpa tujuan, menikmati keindahan alam dari ketinggian dan mencari cahaya kehidupan dari sebuah kedalaman, berimajinasi dengan hal-hal yang gue suka, menggambar, ngopi sambil merokok di depan cekdam dengan alunan nada gitar yang sudah rombeng itu.
Dan karena gue tau menulis bukan hak untuk orang bodoh seperti saya! untuk menulis kata-kata ini pun gue menghabiskan waktu seharian. (memang bukan bakat gue untuk menjadi seorang penulis)

Terkadang gue heran dengan penulis yang menghabiskan waktunya selama bnerhari-hari,berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun hanya untuk menulis tidak lebih untuk menuangkan apa yang ada dipikirannya kedalam sebuah tulisan.
"tulisan lo boleh juga yah?"
"wih! ternyata kamu berbakat juga dalam menulis!"
"lo nulis apa curhat jon?"
"maaf, tata cara penulisan dan kandungan kata-kata anda tidak lebih dari nilai sebuah mading"
Cuma rentetan kata-kata itu yang selalu terdengar dari sebuah tulisan.

Gue pun mulai menulis. gue tumpahkan semua yang ada di pikiran gue, di hati gue, dan apa yang baru saja gue liat. Biarin orang berkata apa karena gue tau gak mudah membuat lingkaran ditengah-tengah kerumunan orang banyak.

Yap, gue menulis! Gue gak sadar sejak kapan gue bisa menulis gue gak tau apakah kata-katague ini merupakan sebuah tulisan ataukah hanya sebuah curhatan diary saja.
Gue menulis apa yang gue rasakan. 
Gue menulis apa yang gue alami.
Gue menulis apa yang gue lihat.

Gue menulis karena ingin menulis! Gue pengen menulis itu menjadi sesuatu yang menyenangkan! Gue pengen menulis itu menjadi sebuah kebutuhan! Gue pengen menulis tanpa batas!
Gue lebih sering menuliskan tentang keegoisan gue. Gue rasa,"gue menulis karena ingin menulis" telah terlanjur terpahat menjadi habbit baru gue.
write suck!
Kenapa gue mulai menyukai dengan yang namanya "menulis"?
Apa yang membuat diri gue ini menyukai hal yang gue benci tersebut?
Yang paling gue benci adalah candu dari menulis! menulis seperti sebuah opium yang membuat gue ketergantungan olehnya!
write = really suck!

Gak jarang berjam-jam gue menghabiskan waktu untuk menulis, dari pagi-pagi buta hingga larut malam.
Jika dalam sehari gue tidak menulis, gue merasa timpang. Seperti birahi yang tak tersalurkan. Seperti sakau yang tak terpenuhi.

Im really addicted, and i cant get myself out of it!
That’s why write is suck!
Sigh…

I guess i have stop complaining because my write is what “suck” it self.

Kamis, 11 November 2010

Belajar Juga Butuh Revolusi

Hey yo! 
Kenapa ya akhir-akhir ini gue ngerasa belajar itu jadi makin asyik! halah#, tau gak kenapa? tau gak kenapa? Haa mau tau aja deh!? "ayalah pokona mah", ceuk si Upin temen gue yang berwujud gempal kayak gehu pedes. :p Ssst udah ah kasian jangan diomongin mulu. wakakakak!
Tau gak temen-temen belajar itu apa?
Belajar merupakan proses mental yang terjadi di dalam diri seseorang, sehingga munculnya perubahan tingkah laku. Aktifitas mental itu terjadi karena adanya interaksi dengan lingkungan.
Belajar, pada dasarnya adalah suatu proses aktivitas mental seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersifat positif baik perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun psikomotor.
Jadi belajar itu selalu mengakibatkan perubahan diri dalam seseorang, disengaja ataupun tidak, baik ataupun buruk.
Pembelajaran sendiri secara harfiah kita gue maknai sebagai proses belajar, proses inilah yang sangat menentukan hasil belajar kita. Karena selama proses itu berlangsung, apa saja yang kita kerjakan, adalah bibit dari apa yang akan kita petik hasilnya di kemudian hari. Pembelajaran adalah bagaimana memanfaatkan dan menggunakan otak kita secara optimal.
Udah ah jadi serius gini!? Jadi temen-temen udah tau kan belajar itu apa dan akibat dari belajar itu apa?
Baguslah kalo sudah tau dan paham tentang apa yang namanya belajar.

Secara umum otak kita terdiri atas 2 bagian yakni otak kecil dan otak besar. Otak kecil nerperan dalam hal koordinasi dan keseimbangan tubuh. Sedangkan otak besar masih terbagi atas otak kiri dan otak kanan. Otak kiri bersifat teratur, linear, dan penuh perhitungan, mampu berpikir secara logis dan rasional. Otak kanan bersifat acak, spekulan, dan peka terhadap emosi atau perasaan, mampu berpikir kreatif dan mampu menginterprestasikan seni.
Menjadi sangat menyenangkan jika kita mampu mengoptimalkan otak kita, apalagi kita sebagai mahasiswa yang terkenal dengan sikap kritisnya dalam menerima segala hal. Namun yang jadi masalah, sejak menjadi siswa kita sudah didoktrin dengan sistem-sistem pembelajaran yang konvensional, hal ini dikarenakan guru mengajar hanya menurut caranya sendiri, menurut bekal mendidik yang mereka peroleh di masa lampau. Sedangkan zaman sudah berevolusi, era sudah berubah, yang dahulu hanya dikerjakan dengan tangan (manual) sekarang sudah berkembang menggunakan berbagai macam produk sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Begitu pula kita seharusnya memperlakukan otak kita, dan otak-otak (bukan makanan) siswa kita sekarang, nanti, dan di masa yang akan datang. Untuk itulah perlu diadakan sebuah inovasi yang mampu menggebrak dunia pendidikan di negeri kita yang cenderung konvensional, terutama kita mulai dari tingkatan yang paling rendah, dengan mengembangkan potensi otak.

FYI, Sejak anak masih dalam kandungan, otaknya sudah berkembang sangat pesat (neuron berkembang antara 5.000-100.000 per detik selama pertumbuhan janin). Setiap anak dilahirkan dengan otak yang luar biasa cerdas dan akan terus berkembang tak terukur. Namun sebagian orang tua mengingkari hal ini, orang tua kurang mampu mengarahkan anak sesuai dengan bakatnya, mereka secara perlahan berusaha membunuh potensi luar biasa anak mereka. Dan ketika memasuki usia sekolah, anak semakin tertekan dengan perlakuan yang sama dengan teman-teman sebayanya sedangkan setiap anak adalah individu yang unik, mereka mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda dan sangat beragam.
Proses belajar setiap individu tak lepas dari peranan otak dalam memahami suatu materi yang diperoleh setiap siswa maupun mahasiswa. Bagaimana kita dapat melayani setiap potensi otak-otak (sekali lagi bukan makanan) itu? Bahkan kita sendiri belum tentu mampu mengoptimalkan kinerja otak kita. Inilah yang menjadi kendala bagi kita, karena kita pun tidak sepenuhnya tau seperti apa otak kita.
Gue sendiri juga bingung apa isi otak gue, ada yang bilang isi otak gue udang, ada juga yang bilang isi otak gue itu cuma hayalan-hayalan yang ga penting. Ya what everlah mereka bilang apa, yang jelas sesuai dengan perkataan gue di atas kita pun tidak sepenuhnya tau apa isi otak kita?! Otak sendiri aja ga tau apa isinya pake gaya-gayaan nebak isi otak gue apa? ahahahag!
Nih ye menurut buku yang gue baca, penulisnya itu kalo gue gak lupa dan gak salah Willam Arntz, Betsy Chasse & Mark Vicente (dalam Erbe Sentanu; 2007:114)  mereka mengemukakan bahwa manusia menggunakan otak yang kecepatannya hanya 2000 bit per detik. Sementara informasi yang membanjiri otaknya mencapai 400.000.000.000 bit per detik. Jadi, saat kita meragukan keterangan ilmu pengetahuan modern, seberapa besarkah mesin kesadaran yang kita pakai untuk meragukannya? Bagaimanakah kita bisa begitu yakin akan sesuatu yang sangat sedikit kita pahami itu?
Your Brain is Like a Sleeping Giant”, kalimat yang diungkapkan oleh Tony Buzan mungkin benar adanya, dengan tegas ia mengatakan bahwa selama hidupnya, rata-rata manusia hanya menggunakan 1% bagian otaknya, lalu yang 99%, ngapain yaaa??…… Mereka (99% bagian otak) tentu ada, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Ada berbagai cara agar sel-sel otak manusia berkembang, salah satunya adalah dengan kagiatan belajar, namun kegiatan belajar yang paling dominan adalah di sekolah, padahal belajar tidak mengenal ruang dan waktu. Belajar dapat berlangsung kapan pun dan dimana pun.
Disini Sang Guru harus mampu melayani kebutuhan siswanya dalam mengembangkan potensi diri. Guru juga harus dapat mengarahkan siswa agar mereka berkembang menuju arah yang lebih baik sehingga akan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain di kemudian hari. 
#BELAJAR BUTUH REVOLUSI#
Proses pembelajaran yang akan diterapkan pada anak usia sekolah dasar khususnya, hendaknya disesuaikan dengan kemampuan otaknya. Karena jumlah dan ukuran saraf otak terus bertambah hingga anak memasuki usia remaja, maka anak pada usia sekolah dasar akan kesulitan dalam memfokuskan dan mempertahankan perhatiannya dalam jangka waktu yang lama. Dibutuhkan waktu untuk merefleksikan kegiatan mereka agar dapat menjaga energi dan motivasi untuk belajar. Sisipkan permainan-permainan kreatif yang berkaitan dengan pelajaran ketika proses belajar berlangsung. Untuk menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri, dapat kita gunakan media yang dapat memacu kerja otak kanannya, misalnya belajar sambil mendengarkan musik, dengan catatan tidak terlalu keras dan tidak sembarang musik yang diperdengarkan kepada siswa. Musik-musik klasik dan instrumental akan lebih enak dan nyaman di dengar dan membuat hati dan pikiran kita santai sehingga belajar pun terasa menyenangkan dan tidak membosankan.
Sudah semestinya guru mendongkrak realita pembelajaran konvensional dengan kreativitas-kreativitas yang dimilikinya agar belajar terasa lebih bermakna. Dan apa yang kita ajarkan kepada siswa akan selalu diingat dan diresapi di sepanjang hidupnya.
Maju terus pahlawan tanpa tanda jasa! ciptakan suasana baru dalam mengajar para generasi penerus bangsa ini! 
Gue yakin kalo dari kecilnye generasi kita udah pada pinter dan penuh dengan sejuta pengetahuan serta prestasi, gedenya nih bakalan jadi mahasiswa yang keritis seperti ane! haha bangga padahal mah tau kritis itu apa juga engga!? -_____-
Dan otomatis juga kalo generasinya udah pada kritis pasti bangsanya juga bakalan jadi bangsa yang kritis dan ga mau jadi bangsa yang terbelakang dan gak terus ngandang aja di dalem lingkaran setan.
Oke udah dulu ah, perut gue udah keroncongan, temen gue yang namanya mike yang obsesi jadi Elvis udeh maksa maksa mulu ngajak makan di warteg langganannya, di pangdam! 
Daaaah!! 

Rabu, 10 November 2010

Ketika Organisasi Menjadi Pilihan

Ketika memikirkan kata organisasi mungkin sebagian besar orang menganggap bersebrangan dengan nilai akademik dan mereka juga beranggapan bahwa dengan aktif didalam organisasi secara otomatis kegiatan study kita telah terganggu, malahan ada juga yang beranggapan ikut organisasi itu hanya kumpul-kumpul berceloteh dan meambicarakan suatu topik tertentu yang menurut mereka tidak berguna sama sekali.
Akhirnya mereka mengambil kesimpulan bahwa berorganisasi itu dapat mengganggu fokusnya belajar dan hanya menhabiskan waktu saja tanpa melihat lebih dalam apa manfaat yang ada di dalam organisasi tersebut, dari sini kita dapat menangkap seklumit fenomena yang tentu saja  tdak sesuai dengan asas dan tujuan dari organisasi itu sendiri. Selain itu juga apakah ada hubungan keterkaitan antara kebutuhan berorganisasi dengan akademik. Untuk menjawab hal ini kita harus mengerti dulu apa itu sebenanya organisasi dan bagaimana praktek pelaksanaan yang benar di dalam organisasi itu. Nah kalau kita sudah bener-bener tau, sudah barang tentu kita tidak akan tergolong sekelompok orang –orang yang menilai negative tentang berorganisasi.

Seperti yang telah kita ketahui, organisasi merupakan sekumpulan atau sekelompok orang-orang yang terdapat dalam suatu wadah yang mempunyai tujuan.
Dari definisi tersebut kita dapat mengambil satu point yaitu sekumpulan atau sekelompok, tentu organisasi tidak dapat berdiri jika hanya terdapat satu individu didalamnya. Kalau begitu bukan organisasi namanya, bagaimana orang bisa menganggap organisasi itu suatu hal yang tidak penting sedeangkan kita tahu didalamnya itu terdapat sekumpulan orang dengan latar belakang suku, agama, budaya, pemikiran dan pengalaman yang berbeda. 

Perbedaan tersebutlah yang menjadi nilai lebih dari yang namanya organisasi karena berbagai pemikiran ada di dalamnya, dan jika boleh berpendapat, menurut saya berorganisasi itu merupakan suatu hal yang menarik dan menantang karena ketika kita masuk kedalam organisasi dapat dianalogikan kita bagaikan masuk ke dalam laut yang didalamnya terdapat berbagai macam terumbu karang dari mulai soft coral sampai dengan hard coral yang merupakan gambaran dari watak-watak orang didalamnya dan juga terdapat biota-biota lain seperti ikan, lamun, sampai dengan plankton sekalipun itu merupakan keanekaragaman budaya dan suku yang terdapat pada organisasi, dan juga dalam berorganisasi itu tentunya terdapat dinamika persoalan yang mau tidak mau harus kita hadapi dan diselesaikan dengan gotong royong, dinamika tersebut dianalogikan sebagai ombak dan arus yang kuat ketika kita berada di laut lepas artinya segala persoalan dan masalah yang terdapat di organisasi itu harus kita selesaikan agar kita bisa terbebas dari masalah tersebut, dan tentunya harus diselesaikan dengan orang-orang yang ada di didalamnya tidak bisa kita tiba-tiba datang meminta bantuan kepada orang lain yang tidak ada kaitannya dengan organisasi tersebut, sama halnya ketika kita berlayar ditengah laut, ketika kita sedang berlayar tiba-tiba ada ombak besar dan badai datang menghantam kapal yang sedang kita tumpangi, untuk mengatasinya tentunya semua orang yang ada di dalam kapal tersebut harus bergotong royong untuk mempertahankan kapal tersebut dari terjangan ombak dan badai.

Dari proses pengeluaran organisasi dari yang namanya dinamika persoalan atau permasalahan itulah mental dan paradigma kita terbentuk menjadi sosok yang dewasa dan bijak dalam berorganisasi.
Dulu juga saya takut dengan yang namanya berorganisasi, kenapa saya takut? karena saya sebelumnya tidak pernah bergabung dalam yang namanya organisasi, dan rata-rata pemikiran orang awam tentang organisasi itu adalah kumpulan orang-orang kritis dan lihai dalam berbicara dan saya tidak punya satu pun dari beberapa hal tersebut, yang membuat saya berani untuk memilih organisasi itu adalah "hidup itu adalah tantangan sekaligus pilihan dan kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya jika kita belum mencoba" dan satu lagi yaitu "hidup itu adalah proses pembelajaran" 2 kalimat tersebutlah yang membuat saya berani memilih organisasi.
Jadi mulai dari sekarang tidak ada salahnya kita berorganisasi karena banyak sekali manfaat-manfaat positif yang terkandung di dalamnya.