Hey yo!
Kenapa ya akhir-akhir ini gue ngerasa belajar itu jadi makin asyik! halah#, tau gak kenapa? tau gak kenapa? Haa mau tau aja deh!? "ayalah pokona mah", ceuk si Upin temen gue yang berwujud gempal kayak gehu pedes. :p Ssst udah ah kasian jangan diomongin mulu. wakakakak!
Tau gak temen-temen belajar itu apa?
Belajar merupakan proses mental yang terjadi di dalam diri seseorang, sehingga munculnya perubahan tingkah laku. Aktifitas mental itu terjadi karena adanya interaksi dengan lingkungan.
Belajar, pada dasarnya adalah suatu proses aktivitas mental seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersifat positif baik perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun psikomotor.
Jadi belajar itu selalu mengakibatkan perubahan diri dalam seseorang, disengaja ataupun tidak, baik ataupun buruk.
Pembelajaran sendiri secara harfiah kita gue maknai sebagai proses belajar, proses inilah yang sangat menentukan hasil belajar kita. Karena selama proses itu berlangsung, apa saja yang kita kerjakan, adalah bibit dari apa yang akan kita petik hasilnya di kemudian hari. Pembelajaran adalah bagaimana memanfaatkan dan menggunakan otak kita secara optimal.
Udah ah jadi serius gini!? Jadi temen-temen udah tau kan belajar itu apa dan akibat dari belajar itu apa?
Baguslah kalo sudah tau dan paham tentang apa yang namanya belajar.
Secara umum otak kita terdiri atas 2 bagian yakni otak kecil dan otak besar. Otak kecil nerperan dalam hal koordinasi dan keseimbangan tubuh. Sedangkan otak besar masih terbagi atas otak kiri dan otak kanan. Otak kiri bersifat teratur, linear, dan penuh perhitungan, mampu berpikir secara logis dan rasional. Otak kanan bersifat acak, spekulan, dan peka terhadap emosi atau perasaan, mampu berpikir kreatif dan mampu menginterprestasikan seni.
Menjadi sangat menyenangkan jika kita mampu mengoptimalkan otak kita, apalagi kita sebagai mahasiswa yang terkenal dengan sikap kritisnya dalam menerima segala hal. Namun yang jadi masalah, sejak menjadi siswa kita sudah didoktrin dengan sistem-sistem pembelajaran yang konvensional, hal ini dikarenakan guru mengajar hanya menurut caranya sendiri, menurut bekal mendidik yang mereka peroleh di masa lampau. Sedangkan zaman sudah berevolusi, era sudah berubah, yang dahulu hanya dikerjakan dengan tangan (manual) sekarang sudah berkembang menggunakan berbagai macam produk sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Begitu pula kita seharusnya memperlakukan otak kita, dan otak-otak (bukan makanan) siswa kita sekarang, nanti, dan di masa yang akan datang. Untuk itulah perlu diadakan sebuah inovasi yang mampu menggebrak dunia pendidikan di negeri kita yang cenderung konvensional, terutama kita mulai dari tingkatan yang paling rendah, dengan mengembangkan potensi otak.
FYI, Sejak anak masih dalam kandungan, otaknya sudah berkembang sangat pesat (neuron berkembang antara 5.000-100.000 per detik selama pertumbuhan janin). Setiap anak dilahirkan dengan otak yang luar biasa cerdas dan akan terus berkembang tak terukur. Namun sebagian orang tua mengingkari hal ini, orang tua kurang mampu mengarahkan anak sesuai dengan bakatnya, mereka secara perlahan berusaha membunuh potensi luar biasa anak mereka. Dan ketika memasuki usia sekolah, anak semakin tertekan dengan perlakuan yang sama dengan teman-teman sebayanya sedangkan setiap anak adalah individu yang unik, mereka mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda dan sangat beragam.
Proses belajar setiap individu tak lepas dari peranan otak dalam memahami suatu materi yang diperoleh setiap siswa maupun mahasiswa. Bagaimana kita dapat melayani setiap potensi otak-otak (sekali lagi bukan makanan) itu? Bahkan kita sendiri belum tentu mampu mengoptimalkan kinerja otak kita. Inilah yang menjadi kendala bagi kita, karena kita pun tidak sepenuhnya tau seperti apa otak kita.
Gue sendiri juga bingung apa isi otak gue, ada yang bilang isi otak gue udang, ada juga yang bilang isi otak gue itu cuma hayalan-hayalan yang ga penting. Ya what everlah mereka bilang apa, yang jelas sesuai dengan perkataan gue di atas kita pun tidak sepenuhnya tau apa isi otak kita?! Otak sendiri aja ga tau apa isinya pake gaya-gayaan nebak isi otak gue apa? ahahahag!
Nih ye menurut buku yang gue baca, penulisnya itu kalo gue gak lupa dan gak salah Willam Arntz, Betsy Chasse & Mark Vicente (dalam Erbe Sentanu; 2007:114) mereka mengemukakan bahwa manusia menggunakan otak yang kecepatannya hanya 2000 bit per detik. Sementara informasi yang membanjiri otaknya mencapai 400.000.000.000 bit per detik. Jadi, saat kita meragukan keterangan ilmu pengetahuan modern, seberapa besarkah mesin kesadaran yang kita pakai untuk meragukannya? Bagaimanakah kita bisa begitu yakin akan sesuatu yang sangat sedikit kita pahami itu?
”Your Brain is Like a Sleeping Giant”, kalimat yang diungkapkan oleh Tony Buzan mungkin benar adanya, dengan tegas ia mengatakan bahwa selama hidupnya, rata-rata manusia hanya menggunakan 1% bagian otaknya, lalu yang 99%, ngapain yaaa??…… Mereka (99% bagian otak) tentu ada, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Ada berbagai cara agar sel-sel otak manusia berkembang, salah satunya adalah dengan kagiatan belajar, namun kegiatan belajar yang paling dominan adalah di sekolah, padahal belajar tidak mengenal ruang dan waktu. Belajar dapat berlangsung kapan pun dan dimana pun.
Disini Sang Guru harus mampu melayani kebutuhan siswanya dalam mengembangkan potensi diri. Guru juga harus dapat mengarahkan siswa agar mereka berkembang menuju arah yang lebih baik sehingga akan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain di kemudian hari.
#BELAJAR BUTUH REVOLUSI#
Proses pembelajaran yang akan diterapkan pada anak usia sekolah dasar khususnya, hendaknya disesuaikan dengan kemampuan otaknya. Karena jumlah dan ukuran saraf otak terus bertambah hingga anak memasuki usia remaja, maka anak pada usia sekolah dasar akan kesulitan dalam memfokuskan dan mempertahankan perhatiannya dalam jangka waktu yang lama. Dibutuhkan waktu untuk merefleksikan kegiatan mereka agar dapat menjaga energi dan motivasi untuk belajar. Sisipkan permainan-permainan kreatif yang berkaitan dengan pelajaran ketika proses belajar berlangsung. Untuk menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri, dapat kita gunakan media yang dapat memacu kerja otak kanannya, misalnya belajar sambil mendengarkan musik, dengan catatan tidak terlalu keras dan tidak sembarang musik yang diperdengarkan kepada siswa. Musik-musik klasik dan instrumental akan lebih enak dan nyaman di dengar dan membuat hati dan pikiran kita santai sehingga belajar pun terasa menyenangkan dan tidak membosankan.
Sudah semestinya guru mendongkrak realita pembelajaran konvensional dengan kreativitas-kreativitas yang dimilikinya agar belajar terasa lebih bermakna. Dan apa yang kita ajarkan kepada siswa akan selalu diingat dan diresapi di sepanjang hidupnya.
Maju terus pahlawan tanpa tanda jasa! ciptakan suasana baru dalam mengajar para generasi penerus bangsa ini!
Gue yakin kalo dari kecilnye generasi kita udah pada pinter dan penuh dengan sejuta pengetahuan serta prestasi, gedenya nih bakalan jadi mahasiswa yang keritis seperti ane! haha bangga padahal mah tau kritis itu apa juga engga!? -_____-
Dan otomatis juga kalo generasinya udah pada kritis pasti bangsanya juga bakalan jadi bangsa yang kritis dan ga mau jadi bangsa yang terbelakang dan gak terus ngandang aja di dalem lingkaran setan.
Oke udah dulu ah, perut gue udah keroncongan, temen gue yang namanya mike yang obsesi jadi Elvis udeh maksa maksa mulu ngajak makan di warteg langganannya, di pangdam!
Daaaah!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar